Pertualangan Fizkar

Kedekatanku dengan Fizkar kian erat. Bahkan, kini setiap pulang sekolah aku bisa lebih sore dibandingkan Aris. Apalagi yang kulakukan kalau bukan berduaan dengan Fizkar? Mengobrol di beberapa sudut sekolah, berjalan-jalan ke toko kaset, toko buku, atau pasar loak. Aku juga sudah beberapa kali diajak ke rumah pamannya. Namun, lebih sering dia yang ke rumahku karena keadaan rumahku lebih sepi. Selama kedekatan itu sayangnya belum pernah terjadi sesuatu yang sangat aku harapkan. Menikmati kehangatan dan kejantanan kontol Fizkar!

sebelum melanjutin membaca follow admin yaa😀

“Toro … kamu sudah mendengar berita terbaru tentang Fizkar?” tanya Aris berbisik. Aku menautkan alisku. Aku selalu bersama Fizkar dan sampai saat ini keadaanku baik-baik saja. Bahkan, kurasakan jauh lebih baik daripada kehidupanku sebelumnya yang sunyi. “Tentang apa?” balasku bertanya.“Berita yang aku dengar kemarin menyebutkan bahwa Fizkar pernah menjadi selingkuhan Mamanya Doni, anak kelas II Sosial 4 …!” Hah! Sadis sekali berita itu! “Sepertinya siswa-siswa di sekolah kita mempunyai bakat yang besar untuk menjadi pekerja-pekerja infotainment, deh! Biang gosip semua!” cibirku. “Kamu bisa klarifikasi ke Fizkar, Ro! Aku juga nyaris tidak mempercayai berita tersebut …” kata Aris ragu.

“Nyaris?” aku mempertanyakan ucapannya. “Ya! Doni sendiri membenarkan cerita itu. Ia pernah memergoki mereka. Saat itu Fizkar belum masuk sekolah kita. Kini orang tua Doni bercerai. Dan … Doni akan membuat perhitungan dengan Fizkar …!” Aris kembali berbisik. Benarkah? Fizkar merusak rumah tangga orang? Aku akan coba mencari tahu kebenaran cerita tersebut … Di kamarku sepulang sekolah … Aris masih sibuk dengan kegiatan tambahannya. Fizkar berbaring di sisiku. Ia bertelanjang dada. Kekar sekali. Khas lelaki maskulin. “Kamu sudah mendengar berita terbaru di sekolah, Fiz?” tanyaku hati-hati. “Gosip?” ejeknya. “Tentang kamu, lho!” rajukku.

Kuusap dadanya yang bidang dengan lembut. Fizkar tidak keberatan aku menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang semua kukagumi, kecuali satu. Kontolnya … “Ya … tetapi aku tidak mau percaya begitu saja …” jelasku. Aku ingin ia nyaman bersamaku.
“Masalah apa?” tanyanya penasaran. Kutatap matanya. Si jantan bermata elang ini meredupkan matanya. Ia ingin meyakinkan bahwa aku dapat menceritakan berita itu dengan nyaman. Tak ada ancaman. “Kamu pernah menjadi selingkuhan?” pancingku. Akh, dadaku berdebar. Fizkar menghela nafas. Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia mengambil posisi duduk bersandar di atas tempat tidurku.

“Tante Yosie menjebak gue …” desahnya, “Kami bertemu di sebuah warung bakso. Waktu itu gue lagi bolos sekolah. Kami mengobrol. Ia menawarkan minuman yang sudah ditaburi serbuk obat. Supaya tidak depresi katanya. Gue yang memang lagi banyak masalah tidak menolaknya. Kami terus berbicara. Pembicaraan mulai menjurus ke hal-hal yang berbau seks. Gue sange’. Ngaceng berat. Obat perangsang itu sudah bekerja. Tante Yosie membawa gue ke rumahnya. Gue tidak bisa menolak ajakannya. Kontol gue benar-benar tidak bisa diajak kompromi …” “Terus …” aku penasaran. Keingintahuanku berbaur dengan rangsangan. Ini cerita tentang petualangan kontol Fizkar!

“Gue entot dia berkali-kali. Gue heran, kontol gue ngaceng terus. Apalagi Tante Yosie terus memutarkan bokep. Hingga kami lupa waktu. Doni pulang. Dia tidak melihat persetubuhan itu. Namun, saat gue diantar mamanya ke depan pintu gerbang dia melihat gue. Gue yakin dia sudah bisa menyimpulkan sesuatu yang terjadi antara gue dengan mamanya …” “Terus? …” cecarku lagi. Kali ini benar-benar penasaran.“Beberapa hari kemudian gue dijemput polisi dari sekolah. Di kantor polisi sudah menunggu Tante Yosie dan suaminya, papanya Doni. Gue tidak tahu posisi gue sebagai apa. Gue mengakui perbuatan gue dan Tante Yosie. Namun, gue tidak menceritakan masalah obat perangsang itu. Lagi-lagi gue malu. Gue rasa orang lain tidak perlu mengetahui kebodohan gue!
Tante Yosie tidak berkata apa-apa saat suaminya mengatakan cerai.Gue sendiri langsung dipindahkan paman gue setelah pembagian rapor. Itu juga karena tekanan dari pihak sekolah. Namun, sebelum pindah paman gue minta supaya gue dinyatakan naik dan masuk program Fisika. Dia berharap gue bisa berada di lingkungan belajar yang serius.” “Jadi benar …” gumamku seolah-olah tidak percaya.
“Sekarang terserah elo, Ro! Elo mau membenci gue seperti yang lain silahkan! Gue sadar, gue bukan orang yang pantas dibela dan dipercayai …” pasrah kudengar kata-kata Fizkar.

“Kamu dijebak, Fiz! Kalau dalam keadaan sadar kamu pasti tidak akan melakukannya . mungkin …” hiburku ragu. Fizkar tidak menginginkannya? “Nafsu gue besar, Ro! Namun, tidak sebesar rasa kebencian dan kemarahan gue pada orang-orang di sekitar gue. Yang jelas, tanpa obat perangsang itu pun gue tetap akan ngentot dengan Tante Yosie. Gue akan buktikan bahwa kontol gue yang selalu jadi bahan pelecehan mampu menaklukkan nafsu keperempuanan dan kejalangannya!” Wajah Fizkar mengeras. Api berkobar-kobar di matanya yang tajam. Bukan nafsu seks yang membuatnya melakukan itu! Kebencian! “Maaf, aku hanya bermaksud mencari kejelasan dari kamu …” ucapku lirih.
“Gue bukan perjaka lagi, Ro! … Elo masih menginginkannya?” Fizkar meletakkan tanganku di atas kontolnya. Besar sekali! Padahal belum ngaceng! Glekk … aku malu menjawabnya. Kontol Paman Arjo yang sudah bertahun-tahun dimasukkan ke istrinya saja aku sangat bernafsu, apalagi kontol Fizkar yang baru dipakai beberapa kali ke Tante Yosie? Aku usap perlahan benda pribadi Fizkar itu. “Isep, Ro!” sebuah perintah sekaligus bentuk pembolehan. Kini saatnya! Kuraih batang bulat panjang yang besar dan mulai menegang itu. Kuciumi. Kusapukan lidahku ke seluruh bagian dan lekuk-lekuknya.

Kepalanya. Lingkar cincinnya. Batangnya yang panjang penuh ukiran ototnya. Kedua benda bulat yang menggantung menggairahkan. Segar! Kusibak rerimbunan hitam di pangkal kemaluan
Fizkar. Kuhisap batang kontolnya. Kupijat dengan lingkar mulutku. Kujilati penuh nafsu. Fizkar berulang mendesah. Sesekali mengelepar saat ku sentuh perbatasan zakar dan duburnya dengan ujung lidahku. “Terus, Ro! Sampai keluar!” pintanya. Hampir setengah jam aku memuluti kontolnya. Belum pernah aku mengoral kontol selama itu. Mulutku mulai pegal. Kulepas batang hitam membara itu dari mulutku. Kuraih dengan tanganku. Kukocok perlahan. Terus. Ritme kocokan agak kupercepat. Terus. Lebih cepat lagi. Terus. Semakin cepat … “Aaaarrrggghhh ….!”CROTTTT … CROTTT … CROTT … CROT …

Hening.
“Enak, Fiz?” tanyaku manja. Fizkar tersenyum. Manis sekali. Diraihnya kepalaku ke arahnya. Diciuminya bibir dan seluruh wajahku. “Terima kasih, Ro!” bisiknya di belakang telingaku menggelitik. Geli. “Mau lagi?” pertanyaan atau permintaan? “Nggak capek?” tanyaku lugu. Ia tersenyum lagi. Ia pagut bibir dan lidahku bergantian seraya melepaskan pakaianku. Kami kini sama-sama telanjang. “Elo kan belum gue keluarin …” tangannya meremas halus kontol kecilku. Ouch! Nikmatnya berada dalam genggaman tangan kekar itu … Fizkar menindihku. Dia mengangkat kakiku dan merentangkannya. Ohh, jangan …“Gue bikin elo lebih enak lagi …” ia
ludahi lubang anusku. Ia arahkan kontolnya yang sudah kembali ngaceng ke duburku. JANGAAAAN!
Aku teringat kejadian di toilet itu. Sakit sekali! Padahal Hendra hanya memasukkannya sekali dan sebentar. Kali ini pasti akan lama … Apalagi kontol Fizkar jauh lebih besar dan panjang … “Rileks, Ro!” Fizkar menyadari kalau aku ketakutan. Tubuhku gemetar hebat. Fizkar menghentikan serangannya. Keringat dingin mengucur di tubuhku. Aku pucat.“Elo sakit, Ro?” tanya Fizkar khawatir. Dia usapkan tangan ke dahiku. “Aku takut sakit, Fiz … Kontol kamu besar sekali …” aku memelas. Mudah-mudahan Fizkar tidak kecewa. “Pelan-pelan …” bisiknya menenangkan. “Kalau sakit, berhenti ya! Jangan diteruskan … “ pintaku memohon. Ia mengangguk. Ia ciumi leherku dan memilin lembut putingku. Aku terangsang sekali. Kurasakan kontol Fizkar kembali mengarah ke duburku. Kubiarkan.

“Sakit …?” tanya Fizkar memastikan. Aku menggeleng. Kontol Fizkar baru menekan. Belum bisa masuk. Kucoba pasrah. Aku ingin Fizkar menikmati lubang yang kumiliki. “Pelan, Fiz …” pintaku. Lubangku terasa tersingkap. Benda keras hangat itu telah menembus meskipun baru sedikit. Aku tahan rasa sakitku. Lubang anusku terlalu kecil untuk kontol Fizkar yang dahsyat itu. “Terusin tidak, Ro? …” Fizkar meminta kepastian. Baru kepala kontolnya yang masuk Air mataku sudah meleleh. Air mata kesakitan … Aku peluk leher Fizkar. Kusembunyikan segala rasa sakit itu. “Terus, Fiz … aku sangat ingin …” kuciumi leher dan telinganya yang berkeringat maskulin. Kontol itu semakin menembus. Terus, Fiz! Biar aku kesakitan yang penting kamu menikmatinya. Terus kusembunyikan wajahku yang penuh rasa kesakitan di lehernya.

Kuacak-acak rambut keriting Fizkar yang pendek. “Ro! Sudah masuk semua …!”  wajah Fizkar tersenyum bahagia. Ada kebanggaan di sorot matanya. Kontolnya yang besar mampu menaklukkan duburku yang sempit. Aku juga tak percaya. Namun, aku merasakan pantatku penuh sekali … juga hangat! Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Kudorong tubuhnya sambil kuremas dada dan perutnya yang datar kencang. “Entot pelan-pelan, ya? Biar enak …”
pintaku binal. Fizkar tidak menyahuti ucapanku. Hanya pantatnya yang maju mundur dengan penuh perasaan. Aku berusaha menjepit dan memijat batang yang keluar masuk itu dengan
otot pelepasanku. Fizkar membuka mulutnya. Mendesah penuh kenikmatan! Aaarrgghh … Kontol itu terus mengaduk-aduk liang belakang kenikmatanku. Kadang perlahan kadang memacu. Dua kali aku ejakulasi. Dan aku tak ingin itu terhenti!

FOLLOW ADMIN :

One thought on “Pertualangan Fizkar

  1. Jika anda seorang pria gay / bisex manly, sedang nganggur? berusia 30th ke bawah. Berijasah minimal SMA.
    Tertarik cari kerja & keluar daerah (merantau).
    Anda siap mandiri. Anda bukan pria manja & malas.
    Saya minat backing anda sampai dapat kerjaan.
    Tenang aja, saya tidak mengharapkan pamrih.
    Tidak harus mengganti.
    Kalo cocok jadi special, gak cocok kita bs jd sodara.
    Yg pasti kenali saya dl… O-8-5-6-6-4-6-O-O-7-8-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s